Senin, 11 Juni 2012

Keyakinan Terhadap Mitos Terkabulnya Permohonan di Gunung Kawi (Metode Penelitian Kualitatif)

Bangsa Indonesia merupakan bangsa multikultural, artinya Indonesia terdiri atas berbagai macam budaya. Keberadaan multikultural dalam bangsa Indonesia membawa keunikan tersendiri bagi bangsa ini. Masing-masing budaya memiliki ke-khasan sendiri dalam mendalami arti sebuah keyakinan. Adat-istiadat yang dijalankanpun dapat berbeda sekalipun berada dalam satu pulau. Seperti halnya suku baduy yang berada di daerah Jawa Barat, akan berbeda dalam menjalankan adatnya dengan suku yang ada di Jawa Timur.

Dalam suatu budaya, mitos membawa pengaruh tersendiri bagi berlangsungnya suatu adat tertentu. Begitu pula dengan bangsa Indonesia yang kaya akan budaya, sehingga berbagai macam mitos juga  muncul seiring dengan kepercayaan masyarakat akan leluhur mereka. Sayangnya, di jaman modern seperti ini, banyak orang-orang yang tidak benar-benar memahami budayanya sendiri, sehingga mereka tidak mengerti makna dibalik mitos yang ada dalam budayanya. Padahal, adat dalam suatu budaya berkaitan erat dengan mitos. Karena mitos itu sendiri dalam kamus besar Bahasa Indonesia berarti cerita suatu bangsa tentang  dewa dan pahlawan zaman dahulu, mengandung penafsiran tentang asal-usul semesta alam, manusia, dan bangsa tersebut  mengandung arti mendalam yg diungkapkan dengan cara gaib.

Seperti halnya mitos yang ada di Gunung Kawi, yang letaknya pada ketinggian2.860 meter pada permukaan laut di kabupaten Malang, Jawa Timur, tepatnya di kecamatan Wonosari, yaitu sekitar 40 km sebelah barat kota Malang. Mitos pesugihan yang muncul dari gunung Kawi menjadi kepercayaan bagi masyarakat, bahkan sampai masyarakat yang berada di luar daerah Jawa Timur.  Makam eyang Kyai Zakaria II atau yang biasa dipanggil dengan sebutan eyang Djoego dan Raden Mas Imam Soedjono menjadi tujuan utama pengunjung saat datang ke Gunung Kawi. Mereka meyakini bahwa setiap permohonan yang mereka minta pasti akan terkabul. Keyakinan akan terkabulnya permohonan di Gunung Kawi pun membawa peneliti kepada rasa ingin tahu yang besar mengenai alasan dan bentuk-bentuk keyakinan tersebut.



Penelitian ini dilakukan di daerah pesarean Gunung Kawi yang berada pada kabupaten Malang, Jawa Timur. Ketika pertama kali tiba di daerah Gunung Kawi, peneliti mampir di toilet umum yang disediakan warga bagi pengunjung, tepatnya di dekat parkiran bus yang dinaiki oleh peneliti dan kawan-kawan, peneliti sempat berbincang dengan salah seorang warga setempat yang kebetulan sedang menjaga mushola yang letaknya tidak jauh dari toilet umum tersebut. Peneliti bertanya kepada warga tersebut mengenai mitos pesugihan yang sangat melekat dengan keberadaan makam eyang Djoego dan eyang Soedjo yang berada di Gunung Kawi tersebut. Sang narasumber tersebut mengatakan bahwa mitos tersebut tidak benar, karena pada awalnya orang-orang yang berkunjung ke Gunung kawi hanyalah ingin berziarah ke makam kedua tokoh yang dimakamkan di Gunung Kawi tersebut. Bila ada penyimpangan dari hakikat ziarah tersebut pasti karena adanya ‘berita tambahan’ yang dibuat oleh pengunjung itu sendiri. Rasa ingin tahu yang semakin kuat membuat peneliti ingin mencari tahu alasan kunjungan para pengunjung dan apa yang mereka harapkan dari ziarah tersebut.
Sesuai dengan fenomena yang muncul dan data-data yang ditemukan oleh peneliti, kebanyakan pengunjung yang datang memiliki tujuan sama, yaitu berziarah ke makam eyang Djoego dan eyang Soedjo, namun mereka juga datang dengan permohonan yang beraneka macam. Hal tersebut didapatkan peneliti melalui wawancara yang dilakukan dengan salah satu pengunjung yang berasal dari Wonogiri, yang bernama pak Sukirman, yang jauh-jauh datang ke makam eyang Djoego dan eyang Soedjo yang ingin berziarah dan mengajukan permohonan demi kelancaran usahanya dalam berdagang. Beliau mengaku telah menjalani rutinitas berziarah ke Gunung kawi sejak tahun 1989 hingga sekarang. Meskipun saat pertama kali beliau datang belum ada penerangan untuk jalanan menuju makam eyang Djoego dan eyang Soedjo, beliau dan kawan-kawannya bertekad untuk tetap pergi berziarah, dan tentunya membawa suatu permohonan. Dengan tegas beliau mengatakan bahwa keyakinanlah yang membawanya sampai kepada Gunung Kawi, dan beliau memberikan pernyataan bahwa ketika beliau yakin dan memohon dengan kesungguhan hati, setiap permohonan pasti akan terkabul. Selama wawancara berlangsung, peneliti juga mengamati keyakinan yang dimiliki oleh oak Sukirman yang terlihat secara verbal, yaitu ketika beliau mengulang secara terus menerus dan memberikan penegasan bahwa hanya dengan kesungguhan dan keyakinan, permohonan akan dapat dikabulkan.
Pada saat penelitian berlangsung, pak Sukirman datang ke Gunung Kawi bersama-sama dengan rombongannya yang juga berasal dari Wonogiri. Beliau mengaku bahwa beliau mengetahui tentang mitos di Gunung Kawi melalui keluarganya dan lingkungan sosialnya di sekitarnya yang juga percaya akan mitos tersebut dan mengaku mitos tersebut benar-benar nyata. Hal tersebut membuktikan adanya penyampaian pesan dari generasi ke generasi mengenai kepercayaan akan mitos di suatu tempat. Permohonan yang biasa diajukan oleh pak Sukirman ialah keberhasilan akan usaha dagangannya. Beberapa kali permohonan tersebut terkabul, dan ketika beliau telah meraih kesuksesan, beliau kembali ke Gunung Kawi untuk membalas jasa roh eyang Djoego dan eyang Soedjo dengan menyumbangkan uangnya untuk pemeliharaan daerah pesarean Gunung Kawi. Sama seperti yang dilakukan oleh pengusaha Bentoel yang telah dipaparkan pada bab sebelumnya.
Setelah melakukan wawancara, peneliti melakukan observasi perilaku-perilaku yang muncul dari pengunjung Gunung Kawi. Karena keyakinan merupakan sesuatu yang abstrak sehingga hanya dapat diamati melalui tingkah laku yang muncul dalam bentuk simbolisasi maupun verbal. Peneliti menemukan beberapa hal yang dilakukan oleh pengunjung yang datang, yaitu membawa bunga-bungaan untuk melakukan  ritual, ada pula yang mengitari makam sebanyak tujuh kali dan berhenti pada titik-titik tertentu dengan melakukan semacam gerak penyembahan.
Dalam teori Rollomay yang membahas mengenai mitos, yang juga menjadi bagian dari manusia. Bahkan mitos juga dapat membentuk identitas diri manusia yang terikat dalamnya. Seperti halnya pak Sukirman yang menginternalisasikan mitos tersebut ke dalam keyakinannya dan menjadikannya pedoman hidupnya. Tidak hanya secara individual, tapi mijtos juga dapat mengikat suatu komunitas bahkan masyarakat. Untuk itulah mitos membawa pengaruh yang kuat bagi manusia, terlebih lagi bagi bangsa Indonesia yang kaya akan keragaman budaya. Banyak manusia modern sekarang yang terhanyut dalam suatu budaya modern yang malah menerjunkan mereka dalam kesia-siaan dalam mencari makna hidup.
Banyaknya pengunjung yang datang, khususnya pada malam jumat legi, menandakan masih banyak masyarakat Indonesia yang meyakini mitos yang ada di Gunung Kawi. Mulai dari anak-anak hingga orang lanjut usia datang mengunjungi pesarean Gunung Kawi. Mereka rela mengantri untuk melakukan ritual demi menyampaikan permohonan mereka. Bahkan orang-orang yang tergolong mampu yang terlihat dari fashion style-nya, juga ikut merayakan ritual di pesarean Gunung Kawi.
Informasi lainnya yang diperoleh peneliti dari kawan yang juga sedang melakukan penelitian ialah rata-rata pengunjung yang datang meminta kesuksesan dalam usahanya, dari bidang apapun. Namun, karena rata-rata pengunjung yang datang berasal dari daerah pedesaan, kebanyakan permohonan mereka ialah kelancaran dalam menjalankan usaha pertaniannya. Keyakinan mereka akan terkabulnya permohonan yang mereka minta membawa mereka kepada harapan. Menurut Rollomay, banyaknya orang-orang yang tidak memercayai mitos berusaha dalam ambisinya untuk mecari kesuksesan dengan usahanya sendiri beresiko mengalami alienasi, apati dan kekosongan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar