Bangsa
Indonesia merupakan bangsa multikultural, artinya Indonesia terdiri atas
berbagai macam budaya. Keberadaan multikultural dalam bangsa Indonesia membawa
keunikan tersendiri bagi bangsa ini. Masing-masing budaya memiliki ke-khasan
sendiri dalam mendalami arti sebuah keyakinan. Adat-istiadat yang dijalankanpun
dapat berbeda sekalipun berada dalam satu pulau. Seperti halnya suku baduy yang
berada di daerah Jawa Barat, akan berbeda dalam menjalankan adatnya dengan suku
yang ada di Jawa Timur.
Dalam
suatu budaya, mitos membawa pengaruh tersendiri bagi berlangsungnya suatu adat
tertentu. Begitu pula dengan bangsa Indonesia yang kaya akan budaya, sehingga
berbagai macam mitos juga muncul seiring
dengan kepercayaan masyarakat akan leluhur mereka. Sayangnya, di jaman modern
seperti ini, banyak orang-orang yang tidak benar-benar memahami budayanya
sendiri, sehingga mereka tidak mengerti makna dibalik mitos yang ada dalam
budayanya. Padahal, adat dalam suatu budaya berkaitan erat dengan mitos. Karena
mitos itu sendiri dalam kamus besar Bahasa Indonesia berarti cerita suatu bangsa tentang dewa dan pahlawan zaman dahulu, mengandung
penafsiran tentang asal-usul semesta alam, manusia, dan bangsa tersebut mengandung arti mendalam yg diungkapkan dengan
cara gaib.
Seperti
halnya mitos yang ada di Gunung Kawi,
yang
letaknya pada ketinggian2.860 meter pada permukaan laut di kabupaten Malang,
Jawa Timur, tepatnya di kecamatan Wonosari, yaitu sekitar 40 km sebelah barat
kota Malang. Mitos pesugihan yang muncul dari gunung Kawi menjadi kepercayaan
bagi masyarakat, bahkan sampai masyarakat yang berada di luar daerah Jawa
Timur. Makam eyang Kyai Zakaria II atau
yang biasa dipanggil dengan sebutan eyang Djoego dan Raden Mas Imam Soedjono
menjadi tujuan utama pengunjung saat datang ke Gunung Kawi. Mereka meyakini
bahwa setiap permohonan yang mereka minta pasti akan terkabul. Keyakinan akan
terkabulnya permohonan di Gunung Kawi pun membawa peneliti kepada rasa ingin tahu
yang besar mengenai alasan dan bentuk-bentuk keyakinan tersebut.
Penelitian
ini dilakukan di daerah pesarean Gunung Kawi yang berada pada kabupaten Malang,
Jawa Timur. Ketika pertama kali tiba di daerah Gunung Kawi, peneliti mampir di
toilet umum yang disediakan warga bagi pengunjung, tepatnya di dekat parkiran
bus yang dinaiki oleh peneliti dan kawan-kawan, peneliti sempat berbincang
dengan salah seorang warga setempat yang kebetulan sedang menjaga mushola yang
letaknya tidak jauh dari toilet umum tersebut. Peneliti bertanya kepada warga
tersebut mengenai mitos pesugihan yang sangat melekat dengan keberadaan makam
eyang Djoego dan eyang Soedjo yang berada di Gunung Kawi tersebut. Sang
narasumber tersebut mengatakan bahwa mitos tersebut tidak benar, karena pada
awalnya orang-orang yang berkunjung ke Gunung kawi hanyalah ingin berziarah ke
makam kedua tokoh yang dimakamkan di Gunung Kawi tersebut. Bila ada
penyimpangan dari hakikat ziarah tersebut pasti karena adanya ‘berita tambahan’
yang dibuat oleh pengunjung itu sendiri. Rasa ingin tahu yang semakin kuat
membuat peneliti ingin mencari tahu alasan kunjungan para pengunjung dan apa
yang mereka harapkan dari ziarah tersebut.
Penelitian
ini dilakukan di daerah pesarean Gunung Kawi yang berada pada kabupaten Malang,
Jawa Timur. Ketika pertama kali tiba di daerah Gunung Kawi, peneliti mampir di
toilet umum yang disediakan warga bagi pengunjung, tepatnya di dekat parkiran
bus yang dinaiki oleh peneliti dan kawan-kawan, peneliti sempat berbincang
dengan salah seorang warga setempat yang kebetulan sedang menjaga mushola yang
letaknya tidak jauh dari toilet umum tersebut. Peneliti bertanya kepada warga
tersebut mengenai mitos pesugihan yang sangat melekat dengan keberadaan makam
eyang Djoego dan eyang Soedjo yang berada di Gunung Kawi tersebut. Sang
narasumber tersebut mengatakan bahwa mitos tersebut tidak benar, karena pada
awalnya orang-orang yang berkunjung ke Gunung kawi hanyalah ingin berziarah ke
makam kedua tokoh yang dimakamkan di Gunung Kawi tersebut. Bila ada
penyimpangan dari hakikat ziarah tersebut pasti karena adanya ‘berita tambahan’
yang dibuat oleh pengunjung itu sendiri. Rasa ingin tahu yang semakin kuat
membuat peneliti ingin mencari tahu alasan kunjungan para pengunjung dan apa
yang mereka harapkan dari ziarah tersebut.
Sesuai
dengan fenomena yang muncul dan data-data yang ditemukan oleh peneliti, kebanyakan
pengunjung yang datang memiliki tujuan sama, yaitu berziarah ke makam eyang
Djoego dan eyang Soedjo, namun mereka juga datang dengan permohonan yang
beraneka macam. Hal tersebut didapatkan peneliti melalui wawancara yang
dilakukan dengan salah satu pengunjung yang berasal dari Wonogiri, yang bernama
pak Sukirman, yang jauh-jauh datang ke makam eyang Djoego dan eyang Soedjo yang
ingin berziarah dan mengajukan permohonan demi kelancaran usahanya dalam
berdagang. Beliau mengaku telah menjalani rutinitas berziarah ke Gunung kawi
sejak tahun 1989 hingga sekarang. Meskipun saat pertama kali beliau datang
belum ada penerangan untuk jalanan menuju makam eyang Djoego dan eyang Soedjo,
beliau dan kawan-kawannya bertekad untuk tetap pergi berziarah, dan tentunya
membawa suatu permohonan. Dengan tegas beliau mengatakan bahwa keyakinanlah
yang membawanya sampai kepada Gunung Kawi, dan beliau memberikan pernyataan
bahwa ketika beliau yakin dan memohon dengan kesungguhan hati, setiap
permohonan pasti akan terkabul. Selama wawancara berlangsung, peneliti juga
mengamati keyakinan yang dimiliki oleh oak Sukirman yang terlihat secara
verbal, yaitu ketika beliau mengulang secara terus menerus dan memberikan
penegasan bahwa hanya dengan kesungguhan dan keyakinan, permohonan akan dapat
dikabulkan.
Pada
saat penelitian berlangsung, pak Sukirman datang ke Gunung Kawi bersama-sama
dengan rombongannya yang juga berasal dari Wonogiri. Beliau mengaku bahwa
beliau mengetahui tentang mitos di Gunung Kawi melalui keluarganya dan
lingkungan sosialnya di sekitarnya yang juga percaya akan mitos tersebut dan
mengaku mitos tersebut benar-benar nyata. Hal tersebut membuktikan adanya
penyampaian pesan dari generasi ke generasi mengenai kepercayaan akan mitos di
suatu tempat. Permohonan yang biasa diajukan oleh pak Sukirman ialah
keberhasilan akan usaha dagangannya. Beberapa kali permohonan tersebut
terkabul, dan ketika beliau telah meraih kesuksesan, beliau kembali ke Gunung
Kawi untuk membalas jasa roh eyang Djoego dan eyang Soedjo dengan menyumbangkan
uangnya untuk pemeliharaan daerah pesarean Gunung Kawi. Sama seperti yang
dilakukan oleh pengusaha Bentoel yang telah dipaparkan pada bab sebelumnya.
Setelah
melakukan wawancara, peneliti melakukan observasi perilaku-perilaku yang muncul
dari pengunjung Gunung Kawi. Karena keyakinan merupakan sesuatu yang abstrak
sehingga hanya dapat diamati melalui tingkah laku yang muncul dalam bentuk
simbolisasi maupun verbal. Peneliti menemukan beberapa hal yang dilakukan oleh
pengunjung yang datang, yaitu membawa bunga-bungaan untuk melakukan ritual, ada pula yang mengitari makam
sebanyak tujuh kali dan berhenti pada titik-titik tertentu dengan melakukan
semacam gerak penyembahan.
Dalam
teori Rollomay yang membahas mengenai mitos, yang juga menjadi bagian dari
manusia. Bahkan mitos juga dapat membentuk identitas diri manusia yang terikat
dalamnya. Seperti halnya pak Sukirman yang menginternalisasikan mitos tersebut
ke dalam keyakinannya dan menjadikannya pedoman hidupnya. Tidak hanya secara
individual, tapi mijtos juga dapat mengikat suatu komunitas bahkan masyarakat. Untuk
itulah mitos membawa pengaruh yang kuat bagi manusia, terlebih lagi bagi bangsa
Indonesia yang kaya akan keragaman budaya. Banyak manusia modern sekarang yang
terhanyut dalam suatu budaya modern yang malah menerjunkan mereka dalam
kesia-siaan dalam mencari makna hidup.
Banyaknya
pengunjung yang datang, khususnya pada malam jumat legi, menandakan masih banyak
masyarakat Indonesia yang meyakini mitos yang ada di Gunung Kawi. Mulai dari
anak-anak hingga orang lanjut usia datang mengunjungi pesarean Gunung Kawi.
Mereka rela mengantri untuk melakukan ritual demi menyampaikan permohonan
mereka. Bahkan orang-orang yang tergolong mampu yang terlihat dari fashion style-nya, juga ikut merayakan
ritual di pesarean Gunung Kawi.
Informasi
lainnya yang diperoleh peneliti dari kawan yang juga sedang melakukan
penelitian ialah rata-rata pengunjung yang datang meminta kesuksesan dalam
usahanya, dari bidang apapun. Namun, karena rata-rata pengunjung yang datang
berasal dari daerah pedesaan, kebanyakan permohonan mereka ialah kelancaran
dalam menjalankan usaha pertaniannya. Keyakinan mereka akan terkabulnya
permohonan yang mereka minta membawa mereka kepada harapan. Menurut Rollomay,
banyaknya orang-orang yang tidak memercayai mitos berusaha dalam ambisinya
untuk mecari kesuksesan dengan usahanya sendiri beresiko mengalami alienasi,
apati dan kekosongan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar